Good Words Never Die

ANTARA SIE DJIN KOEI & DJOKOWI‏

Home  ›  .  ›  ANTARA SIE DJIN KOEI & DJOKOWI‏

ANTARA SIE DJIN KOEI & DJOKOWI‏

JokowiSieDjinKoei

ANTARA SIE DJIN KOEI & DJOKOWI

(sebuah studi-banding antar zaman & etnis)

 

Mukadimah:

Ada kaitan benang merah yang menarik antara kedua tokoh yang berbeda zaman, etnis & kawasan. Inilah yang menarik untuk dikaji dan ditelaah. Keduanya boleh dibilang merupakan sama-sama ‘satrio piningit’ dan gemar berpakaian putih.

Keduanya tidak dengan mudah untuk diperjuangkan (lebih tepat daripada disebut berjuang) menjadi pemuka masyarakat, penuh dengan cercaan dan fitnahan dari lingkungan yang sudah terkontaminasi virus kedengkian dan virus negatif lainnya.

 

Hikayat Sie Djin Koei (薛仁贵)

Kisah dimulai dari impian kaizar Lie Sie Bin (李世民), abad ke-7 dari Dinasti Tong (唐朝). Pada mimpinya, sang kaizar dikejar-kejar oleh kepala penjahat dari negeri Korea, hingga terpojok sampai di tepi laut, saat mana teriakan minta pertolongannya membuahkan hasil. Ksatria berbaju putih dengan gagah berani menolongnya, mengalahkan si penjahat yang segera menggeprak kudanya untuk melarikan diri. Kemudian ksatria itu menghilang ke dalam mulut naga, tanpa sempat menerima ucapan terima kasih.

Siuman dari tidurnya, kaizar memanggil penasihat kerajaan untuk mengartikan arti mimpinya yang sangat seram tersebut. Dari penerawangannya, sang penasihat menuturkan bahwa ksatria itu memang ada namun belum saatnya keluar menampakkan diri untuk mengabdi kepada kerajaan.

Thio Soe Koei (TSK), kepala pasukan pelopor (pasukan yang selalu berada di depan pada peperangan, sebelum pasukan inti tiba di medan laga), mendengar hal itu segera dia mempromosikan menantunya, Hoo Tjong Hian, yang didadani mirip dengan ‘the dream warrior’ tersebut. Namun sayang, mata ketiga penasihat mengatakan bukan dia.

Tibalah saatnya rekrutmen serdadu untuk bela-negara dalam rangka penyerbuan ke negeri sarang penjahat yang letaknya di timur kerajaan, tepatnya Korea. SDK beserta saudara-saudara angkatnya ikut mendaftar. Semuanya diterima, hanya SDK yang ditolak disertai dengan makian dan hujatan oleh TSK sebagai rekruter. Tiga kali dia melamar, tiga kali pula ditolak, dengan berbagai alas an yang amat tidak logis.

Melihat kegigihannya, TSK akhirnya menerimanya namun hanya sebagai pembantu di bagian dapur. Semua saudara angkatnya pun solider untuk ikutan sebagai anggota pasukan dapur. Pasukan inilah yang kemudian kerap menyelamatkan pasukan pelopornya TSK ketika dikalahkan oleh musuh. Namun semua dilaporkan kepada kaizar sebagai jasanya sang menantu.

Begitulah, SDK seakan dipingit oleh ‘Sengkuni’, yang bernama TSK. SDK selalu ditakut-takuti TSK, bahwa dia dicari oleh kaizar LSB untuk dihukum, sesuai dengan mimpinya. Tentu saja, mimpi versi sebaliknya. Bak pembalikan fakta yang dilakukan oleh tabloid ‘Obor Rakyat’, menjelang PilPres yang baru lalu.

Akhirulkata, SDK berhasil jumpa dengan LSB, yang kemudian mengangkatnya menjadi jenderal panglima perang dan berhasil memenangkan pertempuran dengan negara Kolekok (sebutan untuk negeri Korea)

 

Riwayat Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi seakan ‘titisan’ dari Sie Djin Koei. Pakaian yang sering dikenakan pun juga berwarna putih. Nama Jokowi pun mirip dengan ‘Kuwi’ dari Koei, namun jelas dia bukan Herbertus Oey Hong Liong, versi penyebar fitnah.

Tiada yang pernah menyangka, pemilik ‘wajah ndeso’, yang masa kecilnya pernah digusur dari tempat tinggalnya di bantaran kali, akan jadi Walikota Solo, Gubernur DKI, bahkan menjadi RI-1.

Para peneliti dan ahli, seakan mendadak berlomba menjadi para Sengkuni. No doubt, kalau hal tersebut dilakukan oleh Amin Rais, karena memang itulah keahliannya, sejak dia tidak laku dalam kompetisi menjadi RI-1. Tetapi bila itu dilakukan oleh orang-orang yang sebelumnya sangat kredibel, seperti Effendi Gozali (pakar komunikasi politik), Siti Zuhro (peneliti LIPI) & Chusnul Mariyah (mantan komisioner KPU) dll, sungguh sangat disesalkan. Karena kepakarannya ternyata dengan mudah digadaikan demi segenggam berlian.

Demikianlah, Jokowi seakan dihalang-halangi untuk mendapat empati rakyat, sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dari negara, oleh segerombolan ‘Sengkuni’. Awalnya, penduduk DKI irihati dengan rakyat Solo, sehingga mengimpornya ke ‘kotaraja’ (baca: ibukota). Begitu dengan mudahnya dia mendapatkan kemenangan mutlaknya sebagai Gubernur DKI, gantian penduduk provinsi-provinsi lain menyatakan bahwa mereka menghendakinya untuk menjadi pemimpinnya. Bukankah itu berarti menjadi pemimpin seluruh wilayah negeri, yang berarti menjadi RI-1?

Manusia berusaha, namun suratan takdir di tangan Yang Kuasa, dan Vox Populi Vox Dei. Begitulah, ungkapan-ungkapan ini cocok untuk kasus Jokowi ini. Halangan demi halangan datang menerpa, namun jejak langkah yang tulus tanpa pamrih, menyebabkan dukungan rakyat sedemikian dahsyat. Relawan, dengan berbagai nama, gigih memperjuangkannya untuk menduduki posisi RI-1. Mereka rela membiayai dirinya sendiri. Sangat beda dengan relawan fihak lawan, yang merupakan pendukung ‘profesional’ (catatan: dari dunia tinju, profesional = bayaran). Sehingga mereka hanya gigih membela, bilamana bayarannya cocok.

 

Epilog:

Jokowi memang bukan seorang yang berapi-api dalam ucapannya. Dia hanya mengatakan yang dia akan lakukan yaitu melayani seluruh rakyat negeri, agar Indonesia bisa kembali bangkit menuju kejayaan, yaitu Indonesia Hebat. Dia juga bukan politikus, yang bisa memainkan kata-kata demi mendapatkan kekuasaan.

Sifat inilah yang mirip dengan SDK, yang juga hanya bekerja berkarya demi kejayaan dinasti Tang. Sehingga dia dipolitisir serta difitnah oleh para ‘sengkuni’, dan nyaris dihukum pancung.

Oleh karena itu, Jokowi perlu dikawal terus, supaya dia tidak dengan mudah ‘dikadali’ oleh para pemburu kenikmatan jabatan. Karena, biar bagaimanapun dia adalah orang biasa yang bisa silap. Begitulah pula ajakannya kepada para relawan, untuk tidak berhenti. Namun terus memberi masukan, agar dia dapat membenahi negeri yang telah sempat dirusak oleh para bandit intelek.

Posted by: Hardi Kwik <hardi.kwik@gmail.com>

Comments are closed