Good Words Never Die

Prabowo Sebaiknya Segera Berobat (Memeriksakan Diri)

Home  ›  .  ›  Prabowo Sebaiknya Segera Berobat (Memeriksakan Diri)

Prabowo Sebaiknya Segera Berobat (Memeriksakan Diri)

Revaputra Sugito

20 Aug 2014 | 07:50

Beberapa hari belakangan ini di berbagai media begitu banyak ulasan tentang Prabowo. Dan menjelang Putusan MK atas Gugatan PHPU Prabowo-Hatta yang rencana akan dilaksanakan Besok tanggal 21 Agustus 2014, begitu banyak pengamat politik yang sangat yakin bahwa bila MK menolak gugatan PHPU maka Prabowo tetap tidak akan menyerah dan tidak akan mengakui kemenangan Jokowi.

Berita dari Detiknews semalam mengabarkan bahwa pada Orasinya kemarin di depan ribuan pendukungnya di Bandung, Prabowo mengatakan bahwa Dia tidak perduli dikatakan masyarakat luas sebagai orang yang tidak legowo karena sebenarnya dia ingin mempertanggung-jawabkan hasil pemilu yang curang ini kepada puluhan juta masyarakat yang telah memilihnya.

Kalau dilihat kata-kata tersebut rasanya terlalu berlebihan. Tidak mungkin sama sekali puluhan juta pemilih Prabowo akan menuntut Prabowo atas kekalahannya. Kata-kata tersebut hanyalah alasan Prabowo untuk tetap keukeuh memperjuangkan kemenangannya di Pilpres ini. Apapun caranya.

Kabar dari Kompas.com semalam juga demikian. Dimana dikabarkan bahwa bila MK menolak Gugatannya maka Prabowo akan membawa masalah Pilpres yang dianggap curang ini ke PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) dan MA (Mahkamah Agung). Di kompas.com juga Prabowo mengatakan dalam pidatonya di Bandung : Saya yakin menang dan saya harus menang.

Tentu saja langkah-langkah ini membuat masyarakat luas sangat geram dengan Prabowo dan tidak habis pikir, mengapa Prabowo tidak mau legowo sama sekali. Kapan selesainya Pilpres ini kalau masih menggugat dan terus menggugat.

Sudah jelas KPU begitu baik bekerja dan begitu transparan. Selanjutnya juga sudah jelas MK berbuat sebaik-baiknya dan juga transparan dalam sidang-sidangnya. Kalau sudah kalah di MK ya sudah dong, menurut masyarakat banyak. Lagi pula menurut undang-undang yang namanya Sengketa Pemilu itu kalau sudah sampai di MK artinya sudah Final dan tidak bisa digugat lagi. 

Mengapa Prabowo masih berniat menggugat Pilpres setelah Putusan MK keluar?

Jangan-jangan ada apa-apa dengan Prabowo, mungkin ada gangguan Kejiwaan kah atau yang lain? Seperti itulah kira-kira kita semua menduga.

Dan saya mencoba mencari tahu apa kira-kira penyebab mengapa Prabowo begitu ngotot untuk menang. Mengapa Prabowo tidak bisa bersikap Ksatria atau bersikap layaknya seorang Negarawan.

Akhirnya yang pertama saya ambil referensinya adalah Surat Rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira yang mengurai alasan pemberhentian Prabowo Subianto dari Kedinasan Militernya.

A.REKOMENDASI DKP YANG TERLUPAKAN.

Track record seorang tokoh yang akan menjadi calon pemimpin seharusnya kita cermati benar-benar.Kesalahan kita semua adalah tidak mau mencermati atau melupakan Track Record dari Prabowo Subianto. Padahal fakta-faktanya sudah ada dan tinggal dibaca kembali dan dijadikan pertimbangan.

Berikut cuplikan Lembaran Rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira Tahun 1998 (hal 2 dan hal 3), dimana disebut alasan kesalahan-kesalahan dari Letjen TNI Prabowo Subianto :

a.Secara sengaja melakukan kesalahan dalam analisa tugas terhadap ST Kasad.

b.Secara sengaja merubah Perintah Kasad untuk membuat Surat Tugas Satgas Merpati.

c.Melaksanakan dan Mengendalikan Operasi Stabilitas Nasional dimana sebenarnya hal tersebut adalah wewenang Pangab.

d.Memerintahkan Satgas Melati melakukan Penculikan para aktivis tanpa sepengetahuan Pangab.

e.Tidak Melibatkan Staf Organik dalam Prosedur Staf, Pengendalian dan Pengawasan.

f.Sering ke luar negeri tanpa izin dari Kasad ataupun Pangab.

Dengan poin-poin diatas disimpulkan bahwa Letjen TNI Prabowo Subianto berprilaku :

1.Cenderung pada kebiasaannya mengabaikan Sistim Operasi, Hirarki, Disiplin dan Hukum yang berlaku di lingkungan ABRI.

2.Tidak mencerminkan etika Profesionalisme dalam pengambilan keputusan, kepatuhan pada norma hukum, norma-norma yang berlaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, norma-norma yang berlaku di lingkungan TNI-AD/ABRI dan norma-norma pelibatan Kopassus sendiri.

3.Tidak mencerminkan tanggung-jawab Komandan terhadap Tugas dan terhadap Prajurit.

4.Tidak mencerminkan etika Perwira khususnya unsur pembela kebenaran dan keadilan, kesetiaan dan ketaatan, perikemanusiaan serta menjunjung tinggi nama dan kehormatan Korps Perwira ABRI.

5.Tidak mencerminkan Kepedulian terhadap Sumpah Prajurit ke 2,3 dan 4.

6.Tidak mencerminkan kepedulian terhadap Sapta Marga ke 3,5,6 dan 7.

7.Telah melakukan Tindak Pidana : a).Ketidak-patuhan, b).Memerintahkan Satgas Merpati dan Satgas Mawar melakukan perampasan kemerdekaan orang lain.

Tindakan-tindakan tersebut diatas tidak layak terjadi dalam kehidupan Prajurit dan kehidupan Perwira TNI. Tindakan-tindakan tersebut merugikan Kehormatan Kopassus, TNI-AD, ABRI, Bangsa dan Negara.

Atas dasar itu Dewan Kehormatan Perwira berpendapat : Sesuai dengan hal-hal tersebut diatas, maka Perwira Terperiksa atas nama Letnan Jendral TNI Prabowo Subianto disarankan dijatuhkan hukum administrasi berupa diberhentikan dari dinas keprajuritan.

http://www.sumbawanews.com/berita/inilah-isi-lengkap-surat-pemecatan-prabowo

B.TESTIMONI AM HENDROPRIYONO

Sebagai sesama Perwira Tinggi di TNI AD, Hendropriyono mantan Kepala BIN menyatakan mengenal betul kondite Prabowo semasa masih Perwira Tinggi. Hendro mengatakan ketika Prabowo mengikuti Test Kesehatan Jiwa (Prakeswa istilah dalam TNI) sebagai syarat Kenaikan Pangkat Perwira Tinggi, Prabowo ternyata hanya mendapat nilai G4 atau Grade 4. Nilai ini adalah nilai yang sangat buruk untuk kesehatan jiwa seorang Prajurit.

Menurut Hendropriyono seorang Prajurit dengan nilai Prakeswa G4 cenderung menjadi Prajurit yang temperamental dan mudah terpancing amarahnya. Hal ini terjadi karena nilai G4 tersebut mendekati Schizophrenia yang lebih dikenal orang dengan istilah Psikopat.

Sayangnya menurut Hendropriyono, media-media yang ada sudah mengemas Prabowo sebagai sosok yang hebat, mantan jendral Kopassus yang gagah dan sebagainya. Inilah yang membuat Prabowo menjadi tokoh yang memiliki elektabilitas tinggi.

http://www.aktual.co/politik/163813eks-kepala-bin-prabowo-psikopat-dan-sedikit-gila

C.KESIMPULAN AWAL

Bila menganalisa poin B yang merupakan Referensi Dewan Kehormatan Perwira dimana didalamnya terdapat butir-butir yang menyatakan bahwa Prabowo semasa aktif di TNI berprilaku seenaknya sendiri, tidak perduli dengan peraturan, tidak menghormati atasan dan mengambil komando sesuka hatinya dan ditambah dengan testimony dari Hendropriyono yang menyatakan Kejiwaan Prabowo mendekati taraf Schizophrenia bisa disimpulkan bahwa : Kemungkinan besar karakter Prabowo maupun Kejiwaan Prabowo sesuai dengan Referensi DKP dan Testimoni Hendropriyono.

Dan bila memang demikian maka bisa dimaklumi bahwa mengapa Prabowo tidak bisa bersikap menerima apalagi legowo terhadap Hasil Pilpres 2014 yang telah ditetapkan KPU dan juga (akan) disahkan oleh Mahkamah Konstitusi.

D.POST POWER SYNDROME

Kalau pada poin C adalah kesimpulan yang berdasarkan Referensi DKP dan Testimoni Hendropriyono maka saya mencoba menggali kemungkinan lain tentang apa yang kira-kira menjadi penyebab sehingga Prabowo tidak mau mengakui kekalahannya di Pilpres 2014 berikut tidak juga menghargai sama sekali kepada apa-apa yang sudah dilakukan oleh lembaga-lembaga Negara seperti KPU dan Mahkamah Konstitusi.

Saya menduga Prabowo mengalami Post Power Syndrome. Post Power Syndrome adalah Gejala gangguan kejiwaan dimana si penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu nya. Penyakit ini biasanya melanda mereka-mereka yang pernah sukses, pernah jaya ataupun pernah berkuasa. Meskipun semua kalangan masyarakat bisa saja mengalami gejala ini, umumnya yang menderita adalah para pejabat, para artis dan para pesohor.

Ada banyak Faktor yang menyebabkan penyakit ini. Tapi yang paling sering menyebabkan penyakit ini timbul adalah peristiwa Traumatis. Peristiwa Traumatis yang sering terjadi di masyarakat antara lain kena PHK tiba-tiba, Kecelakaan hingga anggota tubuh harus diamputasi, ditinggal orang yang sangat dicintai dan lain-lain sebagainya.

Dan kalau melihat latar belakang Prabowo tentu saja potensi Prabowo terserang penyakit Post Power Syndrome cukup kuat. Prabowo mengalami diberhentikan dini dari kedinasannya di TNI-AD. Dia diberhentikan pada posisi Danjen Koppasus [tidak akurat] dengan pangkat Letnan Jendral.

Secara kejiwaan hal ini merupakan kejadian Traumatis. Dan sudah pasti memukul dengan keras kejiwaannya. Ini mungkin yang membuat Prabowo “Lari” ke Yordania.

Kemudian setelah tahun-tahun berjalan, Prabowo mungkin sudah normal kembali sehingga mampu mendirikan partainya dan mempunyai elektabilitas yang cukup untuk maju menjadi Calon Presiden. Dan berikutnya kita sama-sama menyaksikan 6 Partai ditambah 1 partai miliknya mendukung Prabowo untuk menjadi Capres yang bertarung di Pilpres 2014 ini.

Menjadi Capres yang didukung 7 partai, disambut sana-sini sebagai orang yang sangat terhormat, dipuja-puji oleh para elit partai-partai politik (mungkin juga dijilat-jilat para badut-badut politik), semua itu membuat harapan Prabowo terbang tinggi dan merasa sudah sangat dekat dengan impiannya menjadi seorang Presiden.

Akan tetapi tiba-tiba semua harapannya yang sangat tinggi ini dibuyarkan oleh Keputusan KPU. Tiba-tiba harapan tinggi Prabowo dihancurkan oleh kemenangan seorang mantan Walikota yang hanyalah anak tukang mebel. Prabowo adalah anak konglomerat yang selalu hidup terhormat. Prabowo adalah mantan Danjen Koppasus dengan pangkat terakhir Letjen. Kenapa bisa kalah dari anak seorang tukang mebel? Kenapa bisa kalah dengan seorang mantan Walikota?

Perasaan-perasan inilah yang betul-betul memukul Prabowo. Dirinya merasa Tersakiti. Prabowo marah kepada KPU yang telah menenggelamkan cita-citanya.

Disisi lain terbayang langsung dalam pikirannya, dengan kekalahannya pada Pilpres ini maka Prabowo tidak akan dihormati lagi seperti sewaktu menjadi Capres. Dia tidak akan disambut sana sini lagi. Dia akan kembali ke posisi sebelum Capres yaitu hanyalah seorang Ketua Partai.

Trauma masa lalu nya kembali menghantui pikirannya. Rasa sakit diberhentikan dari jabatan Danjen Koppasus kembali mulai terasa oleh seorang Prabowo. Terbayang sudah nantinya perbedaan sikap orang-orang kepada dirinya. Dia merasa akan kembali menjadi seorang Pecundang sehingga dia berusaha menolak keras-keras kekalahan yang dideritanya di Pilpres 2014 ini.

Dan akhirnya kita melihat yang terjadi seperti yang dipaparkan di alinea awal. Saya yakin menang dan saya harus menang kata Prabowo.

Akhirnya bila disimpulkan, kita tidak tahu persis tentang Kejiwaan Prabowo saat ini apakah sehat atau tidak. Kita juga tidak tahu apakah Prabowo masih sama karakternya maupun kejiwaannya sesuai Rekomendasi DKP dan Testimoni Hendropriyono, ataukah memang Prabowo terkena Post Power Syndrome?

Apakah tidak lebih baik bagi Prabowo maupun orang-orang di belakang Prabowo agar bersedia menasehati dan mendorong Prabowo untuk berkonsultasi dengan para pakar Psikolog?

Sumber :

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/08/19/22070351/selesai.di.mk.prabowo.akan.tempuh.gugatan.ke.ptun.dan.ma?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

Comments are closed