Good Words Never Die

Click picture to see original big size and to download

 

SMA Loyola

SMA Loyola

 

 

http://www.loyola-smg.sch.id/

SMA Kolese Loyola
Address:
JL. Karanganyar No.37 Semarang, Indonesia 50135
Telephone: (024) 3546945 – 3548431
Fax: (024) 3548200
E-mail: koleseloyola@loyola-smg.sch.id

 

LOYOLA’S SYMBOL AND IT’S INTERPRETATION

1.    The word “IHS” (Iesus Hominum Salvator) means Jesus The Savior of Mankind.

2.    The picture of a dove symbolizes the perpetual presence of the Holy Spirit that renders love.

3.    The picture of two wolves guarding a vase with heads lifted up is an embodiment of the warrior-like spirit wafted throughout the air of Loyola’s castle.

4.    The word AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam) carries the meaning that everything is done for the greater glory of God.

 

INTERPRETATION OF THE COLORS

1.    The color of red at the word IHS symbolizes wisdom and bravery.

2.    The color of white at the word IHS and the dove symbolizes holiness, purity, and cleanliness.

3.    The color of blue at the picture of wolves, border of the dove, and the frame of the whole symbol evoke a sense of longing.

4.    The yellow background depicted glory.

INTERPRETATION OF THE LOGO

The symbol, altogether with its colors, carries a profound meaning. Every intricate details of the logo reminds us, the members of Loyola’s family, for the God’s love has generated through the presence of His own son, Jesus Christ who takes the form of the Holy Spirit, to strive our best to expand our talents, intellectuality, and personality to the fullest extent regardless any hinders. All for one ultimate aim: the greater glory of God.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenang ParaGuru Loyola 69:

 

Sharing dari Hendro Purnomo – Saturday, September 15, 2012 5:11:36 AM:

Kebetulan lagi “hot” tentang Loyola sebaiknya kutuliskan an untold story. Memang yang menjadi rektor pertama adalah alm Pater Wayenburg tetapi banyak orang tidak tahu orang lapangan yang berhasil membeli tanah sekian luas untuk areal Loyola Semarang. Orang ini tidak bukan adalah alm Pater Looymans SJ. Aku pernah dikenalkan oleh pater Markus ketika Looymans sepuh menjadi manajer proyek pembangunan Loyola sebelah belakang th 1992 (?). Dulu areal Loyola yang dibeli 1947-48 adalah sampai dekat bioskop Sri terus sampai belakang sampai sederet rumah di sisi seberang lapangan bola sekarang. Barangkali ada 20 hektar plus. Pater Looymans dikenal sebagai ahli bangunan termasuk property di komunitas SJ dan beberapa kongregasi lain di Bandung, Jakarta, Surabaya. Ketika kutengok di Emaus Girisonta 2003 dia terbaring lemah seperti pisang rebus. Dia mau bicara denganku karena teman sekamarnya adalah alm Pater Dijkstra (sekretaris Mgr Soegijopranoto, pendiri LSM “Buruh Tani Front Pancasila”, pendiri Trubus, LSM Bina Desa dan seabrek jabatan sekjen di beberapa federasi uskup Asia dan LSMnya di Manila, Hongkong. Aneh walau selalu menjabat sekjen tetapi samasekali tidak bisa mengetik. Ketika belum pikun total setiap ketemu selalu menyapaku “he he he bajingan cilik kamu belum mati to” dan akupun sigap menjawab “apa kabar bajingan tua. kapan kamu mati.” Dan lalu kami terbahak-bahak sambil berpelukan seperti 2 orang sinting kangenan.)

Tanpa semangat. lebih banyak mengantuk Looymans sepuh cerita riwayat Loyola. Dia jauh sebelum 1947 pelajari peta Semarang dan dia yakin bahwa posisi Loyola adalah persis di pusat kota Semarang dihitung dari Siranda sampai ke pelabuhan. Dulunya rawa2 semua banyak ular. Dia tak tahu siapa pemiliknya lahan seluas yang dia kehendaki dan berapa harganya. Dalam ketidaktahuan itu dia sangat yakin dengan bantuan “invisible hands” masalah sulit ini bisa diselesaikan. Tiap malam ya setiap malam sambil belepotan kena air lumpur pater Looymans berlutut di lahan tersebut sambil mendaras Novena. Selalu beberapa jam sampai lewat tengah malam. Sampai 40 hari. Akhirnya terbeli sudah lahan seluas yang dia mau. Tetapi situasi politik 1949-1951 menyebabkan kepemilikan tanah kian berkurang dan menjadi seluas yang sekarang sejak 1959. Ketika kami reuni 2003 beberapa teman notaris akan mencoba menjernihkan situasi karena akte tanah yang dipegang sekarang arealnya sampai sederet rumah di seberang lapangan bola. Embuh hasilnya.

Belum ada 15 menit ndongeng Looymans sepuh sudah menguap beberapa kali. Sepertinya sudah hampir terlelap. Segera kubisikkan di telinga kanannya “Pater aku bawa peta. Tolong bantu strategi beli tanah.” Rupanya bisikan ini sungguh seperti sihir. Samasekali tidak kuduga walau ini memang yang kuinginkan. Aku sudah dapat bocoran sebelumnya dari Dijkstra. Looymans sepuh segera buka matanya lebar “Kota apa? mana petanya.” Kutunjukkan peta Yogyakarta dan dia yang tadinya seperti pisang rebus mau tidur mendadak sontak matanya berbinar2. Dia minta aku bantu tegakkan bednya dan tambah bantal supaya bisa lebih tegak. Haleluya Astungkara Alhamdulillah Omitofo Puji Tuhan dia sungguh seperti anak kecil lihat permen. Ilernya ngeces ngeces sambil pegang spidolku dia jelaskan ini itu. Aku sungguh menyimak tentir kilat strategi pembebasan lahan dari pendekar sepuh. Ilmu dan jurus2 lama tetapi semua logik. Di buku manapun tidak ada. Sungguh mengherankan Looymans sangat bersemangat. Hidup. Gairah. Samasekali beda dengan 15-20 menit yang lalu. Aku samasekali tidak ada rencana investasi apapun. Peta kubawa agar dia bangun dan mau beri tentir. Kami akhirnya berhenti karena suster masuk kamar sambil dorong makan siang buat 2 pendekar jompo. Supaya aku tidak merasa berhutang banyak budi maka aku bantu ndulang ke Looymans dan lalu juga Dijkstra.

Dari pater Dijkstra aku dapat cerita. Th 2002 ketika mereka masih bisa berjalan sendiri tanpa kursi roda, dengan semangat Ignasian Looymans sepuh yg sudah umur 92th mengusulkan kapitel (pertemuan rohani semua anggota SJ 3-5 hari membahas dan merenungkan latihan Rohani St Ignatius) di Sangkalputung. Walau belum jadualnya tetapi karena yang meminta adalah orang tua dan punya relasi baik dengan banyak pihak akhirnya semua setuju saja. Hebat sekali pertemuan itu yang dihadiri lebih 40 Jesuit Indonesia tua muda. Setelah usai dua hari sesudahnya dalam perjalanan ke Girisonta Looymans tanya kepada Dijkstra” Kok tidak ada apa-apanya ya?!”. Dijkstra tidak menjawab dan Looymans beberapa kali bertanya hal sama. Dengan dongkol D bertanya “Apanya itu apaaa???” L:”Ya betul kok tidak apa-apa ya”. D:”kamu sudah sinting apa-apanya itu apa??” L:”Gini ya. Dulu Jongbloed (guru rohani utama SJ indonesia, setahun bisa pimpin retret agung 30-40 hari sampai 3 kali, pastor pengakuan Kardinal Darmoyuwuno) setelah pimpin kapitel terakhirnya beberapa jam kemudian mati. Lha ini aku kok tidak ada apa-apanya???!!” Aku terkekeh-kekeh sampai keluar air mata dengar cerita itu. Yah para pendekar tua yang kukenal selalu ingin mati sebagai tentara gugur di medan perang. Mereka guru rohani maka ingin mati ketika sedang misa atau acara rohani lainnya. Pater Pabst SJ disamperin malekat Jibrail ketika berdoa Bapa Kami dalam suatu misa kudus harian pagi hari di Magelang. Pater Jan Baker sebagai ahli sejarah mati di pelataran candi Sewu ketika pimpin ekskursi mahasiswa tk 4 Jurusan Sejarah Sanata Dharma. Dan masih ada beberapa kejadian macam itu.

Aku tetap mengenang banyak sahabat dan guru Jesuit baik yang kenal ketika sekolah Loyola, di provinsial ataupun di rumah2 retret. Semoga semua mahluk berbahagia. Sadhu sadhu sadhu.

Sharing dari Bambang Krisnandy – Saturday, September 15, 2012 1:19:14 PM:

Bang H.P.,
aka Hendro Purnomo.
Memang…. jempol – ingetan nya,
banyak lagi aksara nyang aken menyusul…. kalik,
dan sekiranya segala mahluk menjadiken bahagia.
nDong,
tul juga loh, mong-ngomong soal ‘tawar’ nya supra.
Kan owe yuga coba2 liak di u-tube, memang begitu.
Lha, sa’jane ada anak-emas ’65an, orang 39
namane Liem Han Liong bgn nyebul trompet lho.
Harapan menggagas kembali supra aseli tidak mustahil.
Sambil toenggoe kotekan babunyi lagi, taruhkan dia
mau turun pegang tongkat ‘jerygen’ nya diusia sekitar
65-thn-an sa’ini. Bikin kejutan-prima.
Whaa ha ha ha, gamelan, kotekan, terompet,
jidur, tambor……. medal maneh, march-loyola.

Hendro lagi: Saturday, September 15, 2012 11:56:04 PM

Sharing aja Bam. Kalau aku punya kesempatan kuliah lagi aku pasti akan ambil bidang arkeologi – urusan sama benda2 kuno, berburu situs kuno dsb. Sejak sebulan terakhir ini aku begitu semangat cari-cari kakawin dan kidung Jawa kuno. Tak sengaja aku ketemu dosen sastra Bali yang punya (USA dan Eropa) masters degree bidang ephigraphy – baca prasasti. Dari 2 kali pertemuan kami dengan mudah habiskan 12 jam untuk ngobrol. Dia heran kok ada orang sinting yang tak punya formal training “kekunoan” bisa ngobrol jauh. Dan aku juga kaget sendiri kok sebegitu uedaan. Dari dia aku dapat baca di koleksi pribadinya Kalangwan – sekar sumawur kidung jawi kuno seperti Arjuna Sasrabahu, Gatotkaca Sraya, Sutasoma dsb. Pengarangnya adalah bagawan sastra kawi Nusantara – almarhum Empu Prof Dr PC Zoetmulder SJ. Bilang ke dosen tsb kalau aku gelo ketika dulu sang grand maestro masih hidup aku hanya sekali dua saja ikuti misa hariannya tanpa pernah terpikir utk ngangsu kawruh krn tak ada minat ke sastra Jawa. Sekarang setelah tuwo baru bisa mulai nggerayang bahwa sastra Jawa memang luas dan dalam menyentuh kalbu. Sekarang baru bisa mengerti mengapa seorang Zoetmulder muda yang doktor antropolgi Leiden di usia 23 tahun membaktikan segenap daya intelektual dan passion kepada sastra jawi. Sekarang baru ngeh mengapa pater Zoet yang fans berat Beethoen dan Mozart rela tidak menyentuh biola kesayangannya selama 25 th ketika menyelesaikan mahakaryanya yaitu kamus Kawi-English-Kawi.

Bambang lagi: Sunday, September 16, 2012 2:27:20 AM

nDro,

Suka ndenger sharingmu, terlebih mengenai sastra jawa kuno, bhs kawi – kuno jawi.
Trus terkait dgn nama Zoetmoelder, nyang oleh Roeslan gurunya aq dikelas Budaya ‘.loyo yang la’.
Hahaha, ini guru disiplin, lucu dan punya hati nyang baek, sekaligus sangat menghargai romo Zoet itu,
dan suka crita tentang beliau.
“Hanata sira Bhagawan Dhomya nama nira…… bla – bla -bla…..” Kira2 artinya ‘Adalah seseorang
bernama Bhagawan Dhomya namanya…. ” dst nya.

Bhs Kawi susu-nan beliau mengenalkan-ku awalan, akhiran dan sisipan kata…. [e.g: 'ka-ma-um-in'].,
yaaaaa waktu itu sama jua ga terpikir buat apa kemudian. Cerita2 dalam buku kawi itu
banyak kutipan dari cerita kuno, yang isinya sungguh menawan, asrep dan meng-indah kedalamannya.
Absolut mesti belajar baek dan ulang2 bagiku, spy naek kelas, biar dapet secarik kertas tok.
Memang demikian.

Kalau benar demikian kerinduanmu tentang kekunoan negri jawa ini dgn kedalamannya dlm bentuk
arkeologi khusus nya senang kan kuperkenalkan pada sdr.ku Pak Tjahyono nyang domisili di Ngayogyokarto.
Beliau seorang professor arkeology berprofile sederhana ala jokowi. Istrinya Ibu Etty gumbira-lincah-cemricis-full emisi-energetic
mengjadi dosen dan suka kasi seminar2 terutama untuk pendamaian atau sosialisasi. Bisa kenalan di FB.

Gini dulu ya…., memang kalo lagi nggandrungi sesuatu itu trus kelam dalam wektoe, he he he.
Angenan dalam dunya-kayal ‘kuno’ fantastic jika dikeduk dan dimengerti.

Dari Hans Lumajeng: Sunday, September 16, 2012 4:16:39 AM

HP thanks tambahan hikayat supra dan SJ.
K.Bam & HP: lah, sayang ya kalau Supra jd cemplang dan partituur aslinya hilang. Memang belum tentu pengembangan selalu berhasil positif. Saya harap mrk yg mau coba baliki keasal masih bersemangat. Krn Supra ‘kan tidak terpisahkan dgn Kolese Loyola / HC v Deinse?

Hendro lagi: Sunday, September 16, 2012 5:15:16 AM

Tengkyu Bam.

Apakah aku akan lanjut ke belajar kawi masih belum tahu. Yang ada sekarang baca-baca terjemahannya dulu dan coba mencernanya. Aku sadar bahwa terjemahan pasti ada ketidaksempurnaannya. S e k a r s u m a w u r diterjemahkan kasar jadinya bunga bertebaran – konotasi jadi serampangan. Lebih halus menjadi bunga rampai. Kalau kita pakai “rasa” dan apalagi ditambah permenungan/meditasi yang klop dengan habitat budaya jawa maka akan muncul ” keindahan = kebajikan = karma baik yang tertabur”. Dilarikan ke pembahasan biblis ya masuk juga “tanamlah dulu maka kamu akan panen. Berilah maka kamu akan mendapatkan”. Ini memang panduan sikap batin dan pikiran yang pas dan bener. Kalau jaman sekarang minta terus tanpa memberi. Panen tanpa menamam – KORUPSI, ngutil, maling. Sastra ternyata tidak gampang. Dulu ketika SMA ikutan “pandang sebelah mata” dengan anak-anak sosbud. Selama ini aku bertemu dengan beberapa ahli sastra dan linguistik yang SMA nya paspal dan memang otaknya tokcerrrr. Romo Zoet sendiri di Nederland SMA nya di gymnasium (katanya sedikit lebih tinggi dpd HBS). Mungkin Ndong bisa kasih lebih terang.

Hendro: Sunday, September 16, 2012 7:02:33 AM

Mungkin juga ada baiknya mulai siap-siap legowo ketika pada akhirnya mesti kaput – tutup buku. Di dunia tidak ada yang kekal. Persis perputaran karma kata Budha dan Hindu atau “cakra manggilingan” kata orang Jawa. Lahir, muncul (Brahma) – besar, tumbuh, berkembang (Wisnu) – lalu tua, lapuk, menderita dan mati (Siwa). Itulah putaran kehidupan. Pernah dulu bertanya kpd v Deinse mengapa tidak mau bikin 1-2 set gamelan supra. Dia tarik nafas panjang lalu jawabnya: pak …. (aku lupa namanya) sang empu bikin gong di belakang Toko Pemuda (?) Bojong sudah tak mau bikin lagi. Saya bujuk dia mau bayar sampai 3x lipat dia tetap tidak mau. Lalu P v Deinse cerita ternyata ketika dalam proses pembuatan terutama ketika finishing stage dengan penyeteman tiap hari ya betul setiap hari lebih 5 jam habiskan waktu di workshop pak …. weh kok lupa. (Ternyata sejumlah gamelan tua di Bali sini semua gong yang jozzz memang bikinan Semarang.) Ratusan hari dari waktu pater sudah diinves. Banyak di reject walau sudah dicoba kikir sana kikir sini. Dan memang bisa dilebur lagi. Yang langsung okre setelah kikir sana sini katanya tak sampai separuh. Ada 1/2 atau 1/3 set supra yang diberikan kepada sekolah susteran di Jakarta.

Eh ini mestinya bisa masuk World Guiness Record atau Ripley’s believe it or not – Supra Loyola satu2nya satu set utuh gamelan jawa diatonik.

Bambang: Sunday, September 16, 2012 9:46:03 AM

Lhaya ya,
Pendonga’an ku sama, dan ga kliru kerna sbgn orang ex supra misih idup
spirit en jasmani. Ini kan ndak jelek, trus marika bisa kumpul bikin reuni sendiri.
Janjian di fb kapan angkatannya kumpul ya sa’ bisanya lah, ngrame’in acara pake itu.
Vence, tak jago-ken Ven moga dianye juga moco. Kita nunggu jg nyang laen2, sampai

nJedul
 
Kembali ke Home – Daftar Isi Bahasa Indonesia


Comments are closed