Good Words Never Die

Tulisan Terakhir Abun Sanda

Home  ›  .  ›  Tulisan Terakhir Abun Sanda

Tulisan Terakhir Wartawan Senior Kompas, Abun Sanda

Tribunnews.com – Jumat, 5 April 2013 08:48 WIB

abun-sanda

Wakil Presiden RI ke-10, Jusuf Kalla (kanan) dan Presiden Komisaris Kompas Gramedia, Jakob Oetama melayat jenazah wartawan senior dan mantan Direktur Bisnis harian Kompas, Abun Sanda (52), yang disemayamkan sementara di Poliklinik Kompas Gramedia, kawasan Palmerah, Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2013) malam. Almarhum meninggal akibat serangan jantung yang dialaminya saat sedang bertugas di kantor redaksi harian Kompas, sekitar pukul 16.45 WIB. Ia sempat mendapat pertolongan dokter dan dibawa ke Poliklinik Kompas Gramedia untuk mendapat pertolongan sebelum meninggal dunia. TRIBUNNEWS/DH Sapto Nugroho

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sebelum mengembuskan napas terakhir, wartawan senior Kompas, Abun Sanda, masih menulis di kantor. Abun Sanda mengirimkan tulisan terakhirnya pada pukul 16.15 melalui surat elektronik. Berikut tulisannya:

Dalam usia 81 tahun, pengembang senior Ciputra semestinya sudah mengambil jalan surut perlahan dan memberikan kesempatan kepada para eksekutifnya untuk menangani pelbagai pekerjaan besar. Akan tetapi, justru pada usia selanjut itu, bagi Ciputra, kesempatan emas untuk menancapkan karya baru. Ia merasa memperoleh energi baru dari Yang Maha Kuasa ketika menggelorakan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) pada usia itu.

Maka, gerakan entrepreneurship ikut ia pacu dengan penuh semangat. Aktivitas sehari-hari program entrepreneurship ia serahkan kepada beberapa anggota stafnya, misalnya Antonius Tanan dan Agung Waluyo. Namun, dalam pemikiran strategis, Ciputra banyak terlibat. Ia bahkan turun sendiri dalam beberapa sesi pengajaran kepada usahawan menengah dan kecil. Ia menemui sendiri sejumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang haus ilmu dari entrepreneur. Para TKI dan usahawan menengah itu mendapatkan ilmu langsung dari Ciputra.

Hal yang mengharukan, Ciputra memenuhi cita-citanya dengan segala keterbatasannya sebagai pria lanjut usia. Ia menenteng sendiri sebuah kursi lipat yang ia gunakan kalau letih berjalan. Ia berhenti melakukan aktivitas, misalnya duduk istirahat, ketika merasa lelah berbicara di depan orang-orang yang ingin mendengar uraian pikirannya. Akan tetapi, ini semua tidak membuat Ciputra surut, bahkan ia makin menggebu.

Apa yang melatari Ciputra mengambil entrepreneurship sebagai tema besar gerakannya kali ini? Dalam beberapa kesempatan, Ciputra menyatakan, bangsa ini amat kaya. Sumber daya manusianya hebat, sumber daya alamnya salah satu yang terbaik di dunia. Apa saja ada di Indonesia. Minyak bumi, gas, batubara, emas, perak, tembaga, hutan tropis terbesar ketiga di dunia, dan tanah yang demikian subur. Negeri ini terbesar dalam produk minyak kelapa sawit (crude palm oil). Kurang apa lagi?

Akan tetapi, Ciputra terperangah, mengapa bangsa ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara maju. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan kurang dalam hal sumber daya alam, apalagi kalau dibandingkan dengan Indonesia. Namun, ketiga negara itu mampu menjadi negara-negara dengan kemajuan industri mencengangkan. Pendapatan penduduknya berkali-kali lipat dibandingkan Indonesia. Beberapa aspek ini menjadi alasan Ciputra menggalakkan entrepreneurship. Ia keluarkan uang pribadi untuk mendorong program ini berjalan. Belakangan, sejumlah lembaga dan badan usaha membantu programnya.

Ciputra menyampaikan hal tentang entrepreneurship itu dengan bahasa sederhana, yakni bagaimana menjadikan sesuatu yang tidak berguna menjadi berguna. Misalnya, menjadikan sampah menjadi emas serta menjadikan barang murahan menjadi barang dengan nilai ekonomi amat tinggi. Atau mengubah seseorang yang tidak tahu bisnis sama sekali menjadi sangat tahu berbisnis.

Ia mengajarkan cara berbisnis dengan bahasa dan contoh-contoh sederhana. Setelah selesai berbicara dengan Ciputra, banyak TKI atau usahawan kecil mampu melakukan banyak hal. Misalnya, membuka usaha sendiri dengan omzet yang mencengangkan. Membuat warung bakso yang sebelumnya hanya terjual 30 butir per hari menjadi 300 butir per hari. Membuat gudang yang terbengkalai menjadi salon yang sangat laris. ”Anda kalau punya laba bersih Rp 100.000 per hari, jangan dihabiskan semuanya. Kalau bisa pakai hanya Rp 20.000 atau Rp 30.000 per hari. Sisanya pakai untuk dana cadangan atau perbesar modal kerja,” ujar Ciputra.

Kepada para wartawan dan anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) pun, Ciputra suka mengampanyekan entrepreneurship ini. Menurut dia, jangan keasyikan dengan iklim enak di zona nyaman. Anda mesti menyiapkan diri, misalnya, apabila terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), Anda tidak berdaya sehingga harus berhenti bekerja, dipensiunkan di usia dini, atau pensiun ketika tiba masa pensiun. Banyak orang kebingungan ketika tidak lagi bekerja. Pendapatan terhenti atau menurun dalam jumlah signifikan.

Seandainya, kata Ciputra, mereka menyiapkan diri dengan baik, misalnya mempunyai usaha yang menghasilkan, mereka tidak perlu bingung. Namun, kalau sama sekali tidak ada penghasilan, pasti bikin pusing. Mereka lalu sakit-sakitan dan meninggal pada usia muda. Oleh karena itu, ayolah, kita gelorakan semangat entrepreneurship. Kita bersama mengusir kemiskinan dan menggantinya dengan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Sejumlah lembaga di dalam dan luar negeri mengapresiasi apa yang dilakukan Ciputra dan para stafnya. Beragam penghargaan diberikan kepadanya. Penghargaan terakhir diberikan oleh Channel News Asia, di Singapura, pekan lalu. ”Semangat entrepreneurship memberi saya energi dan elan baru untuk tidak berhenti mengabdi pada bangsa ini,” katanya.

Selamat Jalan Abun Sanda Sang Pelobi Ulung

Tribunnews.com – Kamis, 4 April 2013 22:55 WIB

TRIBUNNEWS.COM – Harian Kompas berduka. Salah satu wartawan terbaiknya, Abun Sanda, meninggal dunia di usia 52 tahun, Kamis (4/4) sekitar pukul 16.45 WIB di Jakarta. Wartawan asal Makassar itu meninggal akibat serangan jantung yang dialaminya saat sedang bertugas di kantor redaksi Harian Kompas. Ia sempat mendapat pertolongan dokter dan dibawa ke poliklinik Kompas Gramedia untuk mendapat pertolongan sebelum meninggal dunia.

Abun terbilang wartawan senior di Kompas. Ia pun dikenal sebagai wartawan ulet dan pelobi ulung. Tak ada narasumber yang tak bisa ditemui baginya. Malahan, sekali bertemu dengan narasumbernya, pasti ia langsung akrab.

Menjadi wartawan, tak pernah dimimpikannya ketika mahasiswa. Adalah Sinansari Ecip, dosen Unhas saat itu yang memperkenalkan dunia wartawan. Bersama Hamid Awaluddin (mantan Menkum HAM), Aidir Amin Daud (Dijen AHU Kementerian Hukum dan HAM), Joni Silama, Rudy Harahap, dan Baso Amir (mantan wartawan Swa), diajak Ecip bergabung di Harian Fajar.

Di Makassar, ia pernah menjadi Redaktur Olahraga. Ia sangat suka menulis soal PSM. Ketika sudah bekerja di Kompas, ia ditugasi meliput pertandingan bulutangkis. Ia berhasil dengan mudah mewawancarai pebulutangkis China. Ia melakukan wawancara dengan menggunakan bahasa Mandarin. Abun memang keturunan Tionghoa di Makassar.

Sekali waktu, ia ditugasi Kompas untuk mewawancarai pengusaha Sofjan Wanandi. Pengusaha terkenal itu menolak ditemui Abun. Lelaki tambun ini tak pernah mengeluh. Beberapa kali selalu ditolak. Abun pun tak patah semangat. Ia bahkan menunggui Sofjan di depan pagar rumahnya.

Sofjan pun akhirnya menjadi luluh. Ia melihat betapa uletnya Abun menjalankan profesinya.

Abun diterima melakukan wawancara khusus. Dalam perkenalan pertama itu, Sofjan Wanandi seolah menyesal. Seorang Abun ternyata begitu bersahaja. Cepat akrab dengan siapa pun. Mereka akhirnya menjadi sangat akrab. Bahkan, Sofjan berkenan dituliskan buku oleh Abun.

“Abun itu ulet. Meski sulit menemui narasumber, ia selalu bisa melakukannya. Dia juga cepat belajar dan menyesuaikan diri dengan bidang baru tugasnya. Dan, selalu berhasil. Hal penting lagi, dia sangat bagus menjaga hubungan dengan narasumber, termasuk narasumber yang sulit sekalipun. Banyak hal yang saya ingat tentang Abun. Dia mau belajar dari siapapun dan selalu berhasil,” kata Baso Amir.

Bukan itu saja. Dia juga sangat solider dengan teman-temannya. Sekali waktu ketika masih di Makassar, Pak Sinansari Ecip mengenakan sandal sepatu Bata warna cokelat di kantor Harian Fajar. Semua wartawan muda berminat memakai sandal seperti itu. Karena tak punya uang kontan, Abun justru memboyong teman-temannya ke toko sepatu milik kakaknya. Mereka mencicilnya dan Abun sebagai penjaminnya.

“Memang kalau ada teman yang kesulitan, dia sangat ringan tangan membantu,” cerita Baso Amir.

Dosen Sosiologi Unhas, Iqbal Latif melihat sosok Abun sebagai orang yang sangat humoris, dan suka bercanda. Itulah yang menyebabkan dia mudah bergaul dengan siapa saja, mulai dari orang kecil sampai pejabat.

Di Makassar, ia memulai karier jurnalistiknya di Harian Fajar. Saat itu ia masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Kuliah sambil menjadi wartawan itulah ia mengenal Baharuddin Lopa, Kajati Sulsel. Ia pun mengenal dan semakin dekat dengan pengusaha Sulsel, Jusuf Kalla. Saking dekatnya, Abun memanggil Kalla dengan sebutan Daeng Ucu.

Ada satu cerita menarik tentang Abun dan Jusuf Kalla. Saat itu Kalla sebagai wakil presiden. Kalla ingin membelikan kamera untuk beberapa cucunya. Abun pun dimintai tolong untuk membelikan kamera yang bagus.

Untuk membeli beberapa kamera itu, Abun menyuruh istrinya ke salah satu bank untuk mencairkan dana. Karena dana yang akan dicairkan itu terkait dengan nama Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, pihak bank curiga. Istri Abun dicurigai mencatut nama wapres. Sadar dicurigai, Abun pun ditelepon oleh sang istri.

Abun langsung menelepon Jusuf Kalla. Dan, orang bank kaget pula ditelepon wapres yang membenarkan soal pencairan uang itu. “Malahan, istri saya dilayani sebaik mungkin,” cerita Abun beberapa waktu lalu.

Dengan almarhum Baharuddin Loppa, ia juga sangat dekat dan dipercaya. Misalnya, sekali waktu Abun diundang khusus oleh Loppa yang sedang berulang tahun. Saat itu, Abun merasa istimewa, karena akan ditraktir Lopa di restoran. Ternyata, cerita Abun, Lopa mengundangnya di kantor dan makan berdua. Makanan pun sengaja Loppa bawa dari rumah hanya untuk menjamu Abun.

Dari Harian Fajar, ia diterima di Harian Kompas. Ia menjadi korensponden di Makassar tahun 80-an. Teman-teman wartawan saat itu menyebutnya sebagai jenderal. Itu lantaran berita yang ditulisnya dan dimuat di Kompas diberi kode bintang.

Tetapi sekali waktu, Abun datang khusus mengundang saya di kantor Harian Pedoman Rakyat. Ia mengajak saya ke Gelael, tempat makan cukup mewah tahun 80-an. Ia mentraktir saya. Apakah Abun berulang tahun? Tidak. Ternyata itulah syukuran karena jenderal (bintang) mulai hilang dan diganti dengan as di setiap kode beritanya. Ia resmi menjadi wartawan Kompas. Menariknya, selesai diwisuda di kampus Unhas, Abun langsung ke Bandara Hasanuddin menuju Jakarta bergabung dengan Kompas.

Dari Jakarta, saat itu, Abun masih sering kontak dengan saya. Ia mengabarkan salah satu kebiasaan buruknya yang sulit ditinggalkan. Abun sangat suka memegang telinga teman-teman dekatnya. Setiap bertemu, tangannya pasti mengusap telinga temannya. Di Jakarta, telinga redakturnya selalu diusap, dan itu lama untuk ditinggalkannya. Tetapi sebenarnya, itulah yang selalu mengarabkannya dengan teman-temannya. Selamat jalan Abun! (tasman banto)


Kembali ke Home – Daftar Isi Bahasa Indonesia


Comments are closed