Good Words Never Die

Waroeng Eddi dan Lain2 Tempat Jajan

Home  ›  .  ›  Waroeng Eddi dan Lain2 Tempat Jajan

Waroeng Eddi

100% Halal – Terima pesanan

Masakan Khas Semarang
Sekali Coba Pasti Suka
HP: 0811 828519 Rumah: 5803170
Jl Raya Panjang 64 Jakarta Barat 580 3170
ITC Kuningan Jembatan Lt. 4 No 4 Jakarta Selatan Tel: 7009-6248

Orhiba-ers,

Tadi siang saya menemukan Warung Makan yang benar-benar Super, menyediakan
aneka masakan khas Semarang yang langka ditemui di Jakarta, dalam satu
tempat yang dinamakan Waroeng Eddi.

Lokasinya tertulis Jl Raya Panjang 64 Jakarta Barat. Tapi kalau mau mencari
lokasinya dengan bermodalkan nomor saja tanpa ada ancer-ancer, ya jelas bisa
desperado pakai bando sebelum ketemu lokasinya, hehehe… karena Jalan
Panjang benar-benar panjang dan kadang-kadang nomornya acak, cocok untuk
adegan uji nyali, terutama misalnya pada saat sedang ingin buang air kecil.

Sebagai ancar2, lokasinya di Jalan Panjang, di sisi menuju ke RCTI. Kalau
datang dari Pondok Indah, setelah melewati Pom Bensin yang 24 jam di sekitar
Pos Pengumben dan Sekolah Nasional Plus, maka sudah harus pelan-pelan,
karena warungnya kecil, dan berada di sederetan warung-warung yang lain.
Bila Anda mafhum benar dengan Nasi Uduk Puas Cabang Kebon Kacang, nah lokasi
Waroeng Eddi kira-kira di kompleks tersebut.

Berkali-kali melewati warung ini, selalu dalam posisi yang salah, yaitu
posisi yang berlawanan, sehingga selalu batal. Makanya hari ini, sambil
memantapkan hati, menyatukan visi dan tujuan jalansutra, akhirnya saya
bela-belain cari U Turn walaupun agak jauh sekitar 500m untuk mampir.
Terutama sudah beberapa minggu ini Waroeng Eddi menempelkan spanduk dengan
satu item yang menawan hati saya: Nasi Koyor. Tadinya mau makan Nasi Bebek
Goreng Surabaya di Jalan Panjang yang rame itu. Batal karena tidak ada
tempat parkir.

Waroeng Eddi menyediakan macam-macam makanan khas Semarang, baik snack
(seperti arem-arem, Lumpia, Tahu Petis, dsb). Main meal antara lain: Tahu
Gimbal Udang, Nasi Ayam (Sego Ayam – nasi Liwet ala Semarang), Bestik Lidah,
Babat/Usus Gongso, Nasi Goreng Babat, Nasi Opor, Ayam Goreng ala Semarang,
Asem-Asem Daging ala Semarang (di warungnya disebut double entry, dengan
Garang Asem Pekalongan – supaya semua persepsi diakomodasi), Bistik
Galantin, Empal, Usus/Babat Goreng, Rempelo Ati, Nasi Gudeg Semarang, Nasi
Koyor, Nasi Langgi, Nasi Rames, dsb.

Sekali lagi saya perlu acungkan jempol karena Pak Eddi, owner sekaligus
chefnya ini, bisa menghadirkan bahan-bahan dasar yang dikirim dari Semarang.
Rebung, Koyor, dsb. secara berkala didatangkan dari Semarang. Saya menikmati
Nasi Koyor hari ini, dan rasanya, mmmm…. Koyornya sangat empuk, di masak
dengan cabe merah dan hijau, dengan kuah yang agak kental. Benar-benar
langka. Basically Koyor adalah “tunjang” atau otot kaki sapi(? BYKS) yang
dimasak secara sederhana hingga empuk. Di Semarang, semur koyor dengan kuah
coklat dan rasa yang sedap seadanya dihidangkan dengan nasi, atau sering
menjadi add-ons untuk sajian Gudeg. Tak heran di sekitar Semarang, ada
varian hidangan Gudeg dengan nama Nasi Gudeg Koyor. Pakemnya adalah nasi,
gudeg Semarang (biasanya agak asin dan encer/basah walaupun ada yg
manis), sambel goreng krecek (dengan kuah, basah juga), dan koyor.

Saya juga “mencobai” sambal yang terhidang di meja. Warnanya merah, dan saat
dicium, aroma yang keluar adalah sambal khas untuk menemani hidangan Ayam
Goreng Semarang. Rasa sambalnya manis dan pedas silih berganti. Modusnya
kental. Hmmm… next time saya harus mencoba Ayam Gorengnya, pasti enak,
kata saya dalam hati.

Bahan2 tertentu katanya diimpor langsung dari Semarang. Si owner, namanya
Eddi, asli Semarang, bisa memasak karena ia memang doyan makan. Wah, dalem
banget nih filosofinya. Dari penampakan luarpun sebenarnya langsung terlihat
bahwa Pak Eddi ini senang makan :) Inilah bedanya JSer dan Non JSer. Kalau
JSer yang suka makan secara penampakan biasanya tetap slim and fit, padahal
definisi dan kadar icip-icip-nyapun di luar batas manusia normal. Wah mantap
benar nih, dari penampilannya memang kelihatan bener bisa masak dan doyan
makan. Pasti dia memasak dengan soul, jadi kreasi masakannya bisa menguar
dengan enak. Saya selalu percaya bahwa “soul” saat memasak akan mempengaruhi
hasil masakan, walaupun pendapat ini sulit dibuktikan secara logis.

Pak Eddi yang super ramah ini selalu menyapa para pembeli dengan logat khas
Semarang-annya yang medhok (dan nyemek) secara ramah. Pria berkacamata ini
jebolan FE UNDIP angkatan 1987. Di Jakarta sudah buka Waroeng Eddi setahun
lalu.

Sebagai desert, saya mencoba Es Campur Gang Lombok. isinya: Cao (cincau
hitam), kolang-kaling, kelapa muda yang gurih (hanya sayang,
irisannya menggunakan alat irisan yg kasar, sehingga teksturnya kasar untuk
kelapa muda yang gurih itu), nanas. Sirupnya? Lhadalah…. Gang Lombok
banget geto loh…. ditutupi dengan es serut yang halus dan menggunung,
sirup yang dipakai memang diimpor langsung dari Semarang pula.

Eddi menjelaskan, Galantin atau Macaroni Schotel bisa dipesan juga secara
khusus, kalau mau, supaya enak, untuk versi spesialnya, dia menggunakan
Smoked Ham dan Liver Paste, dsb. Galantin adalah varian Rollade daging sapi.
Cincangan Daging Sapi dibentuk seperti tabung diolah dengan bumbu2 seperti
pala, bawang putih yang cukup, generous. Dihidangkan seperti steak, ditemani
sayur-sayuran rebus seperti wortel, potongan kentang goreng, dan buncis.
Dressingnya? kuah kental berwarna coklat dengan dominasi bawang putih dan
tomat saat pembuatannya.

Sambil melirik Gimbal Udangnya yang sungguh menggemaskan (tebal dan empuk),
dan Sambal Goreng Kreceknya yang melambai-lambai, saya meninggalkan warung
ini dengan harapan akan kembali lagi dalam waktu dekat.

Nasi = 2.5K
Semur Koyor = 10K
Es Campur Gang Lombok = 7.5K

Kutipan dari kartu namanya:

Waroeng Eddi – 100% Halal – Terima pesanan
Masakan Khas Semarang
Sekali Coba Pasti Suka
HP: 0811 828519 Rumah: 5803170
Jl Raya Panjang 64 Jakarta Barat 580 3170
ITC Kuningan Jembatan Lt. 4 No 4 Jakarta Selatan 70096248

Eh iya, kenapa kok saya kasih nama “Apel gede” di judul posting? Ya karena
“APE Lu mau GuE aDE” sih hehehe… just name it, makanan Semarang, apa saja,
ada di sini. Bikin takjub bener.

Review dari Grace Khoesuma di milis Jalansutra – 14/09/06
Re: Waroeng Apel Gede Eddi

Temans,

Gara-gara postingannya om Hasan dan kebetulan sedang ada perlu di daerah
Jakbar, kami akhirnya melipir juga ke Waroeng Eddi ini dgn sukses dengan
berbekal petunjuk telepon berjalan dari om Hasan :P

Rasanya tidak berbeda jauh dgn apa yg sudah direview, rata-rata semuanya
enyaksss, apalagi buat saya yang jarang-jarang menikmati masakan khas
Semarang. Malam itu kami memesan sepiring nasi goreng babat -pedas sedang-
dengan campuran kecap yg light ditemani acar timun dan garnish tomat. Walau
bukan penggemar jerohan, saya sempat nyicipin dikit daging babatnya
yang empuk dan bersih. Asik juga..

Bistik galantin datang dalam piring datar disiram kuah kental bening dgn
jejak kemerahan ditemani garnish wortel, potongan kentang goreng, dan
buncis. Cacahan dagingnya yang merata wangi bercampur bumbu, surprisingly
kentangnya digoreng setengah matang sehingga masih menyisakan kriyes-kriyes
di gigi. Dicampur dengan acar timun andalan juga lebih baik, menambahkan
spektrum (minjem Capt G) rasa asam sedikit di dalam mulut.

Tahu gimbal udangnya datang dalam satu batalyon lengkap. Beda dengan tahu
pong Hayam Wuruk, tahu gimbal semarangan ala Eddi sepintas mirip tahu telor
surabaya karena dicampur dengan kol, tauge, dan siraman kacang.
Tahunya berukuran 2 minggu (alias cilik-cilik buanget) sehingga agak bingung
juga buat diapresiasi krn porsinya yg kecil hehehe. Enggak deh, tahunya
cenderung kering dan belum nyess waktu digigit. Buat saya yg terbiasa dgn
kuah petis medok, maka kuah ala Eddi terasa agak cemplang mungkin krn
perbandingan petis-gula jawa-air yang belum seimbang. Gimbalnya not bad at
all.

Penasaran dengan semur koyor, akhirnya pesanan kami datang juga. Saya tidak
bisa review ttg otentisitas lha nyobain koyor aja baru sekali-kalinya he he.
Semuanya persis seperti yang sudah dijelaskan om Hasan, hanya catatan saya
sebaiknya hidangan ini memang dinikmati selagi panas karena kalau menjadi
dingin ada kemungkinan lemak-lemak yang mengambang di kuah akan menggumpal
dan menyisakan kesat di langit-langit mulut.

Kuah asem-asem dagingnya yang berwarna kemerahan dengan potongan belimbing
wuluh juga segar. Potongan dagingnya cukup generous walau masih ada beberapa
yang nyangsel dikit (karena ketemu bagian urat). Es campur gg Lombok rasanya
juga sedep, menurut Tina kualitas sirupnya yang bagus membuat rasa es campur
ini jadi tambah nikmat. Sayang wedang kacang tanah yg kami pesan sedikit
gagal karena kacang tanahnya yang terlalu lunak (mungkin akibat pemasakan yg
terlalu lama) dan menyisakan jejak rasa asam di kuahnya. Kerusakan kami
malam itu @70k untuk keseluruhan pesanan dan minuman. Very reasonable.

Overall buat yang klangenan masakan semarang, tampaknya waroeng Eddi ini
‘patut dipoedjiken’. Pak Eddinya sendiri sempat bercerita kalau hari minggu
banyak orang semarangan berkumpul ramai disini. Satu lagi, Pak Eddi juga
adalah pemilik warung Mie Tite “Hoo” di daerah Kedoya yg sebagian besar
menunya adalah versi non halal makanan semarangan. Om Hasan, review plis?
;;)

Salam,
Grace – Jkt

Review dari Wiyono di milis Jalansutra – 15/09/06

Setelah membaca uraian rekan Grace malamnya aku langsung cari itu Waroeng Eddi
Ga gitu susah langsung dapet,karena aku memang tahu lokasi sekitarnya.
Makanannya emang oke dan khas semarang.
Ngobrol ngalor ngidul ternyata Eddi itu anaknya Warung Hoo di Semarang yang
letaknya didepan kantor PT Djarum di jalan Pandean Lamper.
Itu warung langganan aku waktu di semarang…….yang makanan favoritnya semua
ada di warung Eddi.Betul betul dunia sempit, bisa ketemu di Jakarta.

Salam,
Wiyono

——-
Verdict: Tahu Pong Gimbal di Warung Eddi benar-benar literally Fusion as its name. Jadi bila Anda adalah Authentic-cionado, jangan harap Anda menemukan Tahu Pong Gimbal ini bumbunya menggunakan Petis Cuka (ala Tahu Pong Semarang) atau Bumbu Kacang full (ala Tahu Gimbal). Tapi you will get BOTH! agak aneh, tapi ya mungkin cukup inovatif. Dari sisi contentnya, Tahunya pakai Tahu Pong kecil-kecil (Kalau Tahu Gimbal di Semarang, Tahu-nya bukan Tahu pong yang kosong tengahnya, tapi ada isinya), ada Gimbal Udangnya, dan menggunakan condiment Acar Lobak (Khas Tahu Pong Semarang, karena Tahu Gimbal biasanya tidak pakai acar). Aneh bin Ajaib, cukup inovatif, tapi kalau sedikit bingung……. ya kayak saya… hehehe… tapi anyway saya sudah beri input ownernya juga…

Kalau mau baca di website aslinya klik di sini.


Alamat tahu petis:

Kantin Permata
Summagung III blok G3 no.4
Kelapa Gading Permai
telpon.
☎: 46564888
Hp: 02168870908; 02128880724


Lumpia Kampung Baris

Skrg lumpia Kampung Baris sdh ada di Kelapa Gading di Jl Summagung III blok G3 no 4, di kantin Permata. Sebelah BCA yg dekat BNI, belok kiri, kira2 100 meter di sebelah kanan. Telp 021 33718000. Tanya Swat Bwee deh!


Bakmi2 terlezat di Jakarta


Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Suasana di kedai Kopi Es Tak Kie milik Bapak Latief Yunus di Jalan Pintu Besar Selatan III, Jakarta Barat, 18/3.

 

Terbukti sudah kenikmatan es kopi di kedai Kopi Es Tak Kie yang terletak di Jalan Pintu Besar Selatan III no 4-6, tetapi para warga yang tinggal di tempat tersebut sering menyebutnya Lorong Gloria, Glodok, Jakarta Barat. Cita rasa gurih menyambar pada setiap tetesnya. Kedai Kopi Es Tak Kie ini sudah ada sejak tahun 1927 dan kini sampai pada generasi ke-3 yang bernama Bapak Latief. Dengan menghandalkan biji kopi Lampung, es kopi susu dan kopi hitam mempunyai kenikmatan yang senada.

Di kedai Kopi Es Tak Kie, kita tidak hanya disodorkan kenikmatan kopi tetapi juga ada kenikmatan nasi campur dan mie ayam, yang tentunya mengandung babi. Selain makanan dan kopi yang luar biasa, memasuki kedai kopi tersebut kita dibawa mundur ke zaman dahulu, karena nuansa kedai tersebut yang memang terlihat sangat tua . Tidak heran tempat ini sudah menjadi langganan pembuatan film.

Bapak Latief merasakan penurunan yang sangat tajam dari kedai kopi miliknya. Akses jalan yang ruwet dan banyaknya kedai kopi di mal-mal dan beberapa titik di Jakarta yang membuat pelanggan semakin enggan untuk datang ke tempat tersebut.
Kopi es Tak Kie kini memang tua dan sedang meredup tetapi nafasnya masih terus berhembus sangat kuat. Mencoba bertahan di antara hantaman kopi generasi muda.

Selain itu juga di tempat tersebut sejatinya kita tidak hanya sekedar menikmati sebuah kopi tetapi menikmati sebuah budaya.

 


Kembali ke Home – Daftar Isi Bahasa Indonesia

Comments are closed